Sabtu, 26 Juni 2010

komunikasi


komunikasi

Komunikasi berasal dari bahasa Inggeris communication dan berhubungan dengan bahasa latin communis, communico, communicare yang kesemuanya itu memiliki pengertian “membuat sama (to make common)”. Komunikasi menyatakan bahwa suatu pikiran, makna, atau pesan dianut secara sama. Akan tetapi definisi-definisi kontempori menyarankan bahwa komunikasi merujuk pada cara berbagi hal-hal tersebut.Sedangkan menurut ensiklopedia wikipedia.org, Komunikasi memiliki pengertian sebagai “proses sistematik bertukar informasi di antara pihak-pihak, biasanya lewat system simbol”. Dan menurut Carl I. Hovland Komunikasi adalah “proses mengubah perilaku orang (Communication is the process to modify the behavior of other individuals )”.

Selanjutnya komunikasi juga berkaitan dengan komunitas (Community) atau perkumpulan. Yang juga menekankan pada kebersamaan dan kesamaan. Dimana dalam sebuah komunitas tertentu tentu terbangun karena adanya kesamaan. Entah kesamaan pendapat, agama, bangsa, ataupun tujuan. Dan mereka dapat terus-menerus berjalan bersama karena adanya komunikasi di antara mereka.secara singkat Komunikasi dapat diartikan sebagai usaha manusia untuk berbagi informasi di antara mereka.

Dari paparan di atas tentu sekarang kita memiliki pandangan bagaimana komunikasi itu. Komunikasi merupakan suatu unsur keilmuan yang dapat dipelajari dan termasuk dalam rumpun ilmu sosial terapan. Ruang lingkupnya pun cukup luas karena komunikasi tidak hanya terikat pada komunikasi lisan (verbal) melainkan masih ada komunikasi non verbal yang mencakup jurnalisme. Dan kesemua itu dapat kita pelajari lewat ilmu komunikasi.

Boleh dikatakan bahwa ilmu komunikasi adalah ilmu yang mempelajari berbagai aspek-aspek Komunikasi dan praktiknya. Sedangkan menurut Carl I. Hovland ilmu komunikasi adalah kebolehan yang sistematis untuk merumuskan secara tegar asas-asas penyampaian informasi serta pembentukan pendapat dan sikap.

Dalam praktiknya hampir tiap hari kita memerlukan komunikasi, mulai dari bercakap dengan orang lain, mengirim SMS, mendengarkan pensyarah menjelaskan kandungan kuliah, hingga memberi makanan kepada haiwan peliharaan merupakan beberapa contoh perilaku komunikasi sehari-hari.

Salah satu bentuk perilaku komunikasi yang sangat popular adalah pidato (public speaking). Dimana seorang pemidato menyampaikan idea - idea yang diamanatkan kepadanya bahasa lisan. Dengan diutamakan pengucapan yang disampaikan pemidato tersebut harus difahami oleh pendengar (audience). Bagaimana caranya? Tentunya dengan bahasa yang difahami oleh pendengar, yaitu bahasa setempat. Biasanya syarahan dilakukan di depan khalayak ramai. Dimana seorang penceramah harus menyampaikan ideanya dan mengemas sedemikinan rupa agar para pendengar faham dan melakukan apa yang diinginkannya (adanya perubahan sikap dan pendapat).

Demikianlah paparan singkat dari saya mengenai apa dan bagaimana komunikasi itu. Simbol atau pesan verbal adalah semua jenis simbol yang menggunakan satu kata atau lebih. Bahasa dapat juga dianggap sebagai sistem kod verbal (Deddy Mulyana, 2005). Bahasa dapat juga didefinisikan sebagai seperangkat simbol, dengan aturan untuk mengkombinasikan simbol-simbol tersebut, yang digunakan dan difahami suatu kelompok masyarakat.

Jalaluddin Rakhmat (1949), mendefinisikan bahasa secara fungsional dan formal. Secara fungsional, bahasa diertikan sebagai alat yang dimiliki bersama untuk mengungkapkan sesuatu pendapat atau idea. Ia menekankan dimiliki bersama, kerana bahasa hanya dapat difahami bila ada kesepakatan di antara anggota-anggota kelompok sosial untuk menggunakannya. Secara formal, bahasa diertikan sebagai semua kalimat yang terbayangkan, yang dapat dibuat menurut peraturan tatabahasa.

Tatabahasa meliputi tiga unsur : fonologi, sintaksis, dan sematik. Fonologi merupakan pengetahuan tentang bunyi-bunyi dalam bahasa. Sintaksis merupakan pengetahuan tentang cara pembentukan kalimat. Semantik merupakan pengetahuan tentang erti kata atau gabungan kata-kata.

Menurut Larry L.Barker (dalam Deddy Mulyana,2005),bahasa mempunyai tiga fungsi : penamaan (naming atau labeling), interaksi, dan transmisi informasi. Pertamanya adalah penamaan atau penjulukan merujuk pada usaha mengidentifikasikan objek, tindakan, atau orang dengan menyebut namanya sehingga dapat dirujuk dalam komunikasi.

Berikutnya pula berkaitan fungsi interaksi menekankan berbagai gagasan dan emosi, yang dapat mengundang simpati dan pengertian atau kemarahan dan kebingungan. Seterusnya melalui bahasa, informasi dapat disamakan kepada orang lain, inilah yang disebut fungsi transmisi dari bahasa. Keistimewaan bahasa sebagai fungsi transmisi informasi yang selari dengan menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan, memungkinkan kesinambungan budaya dan tradisi kita.

Cansandra L.Book (1980), dalam Human Communication Principles, Contexts, and Skills, mengemukakan agar komunikasi berhasil, sekiranya bahasa harus memenuhi tiga fungsi yang penting. Pertamanya mengenal dunia di sekitar kita. Melalui bahasa kita mempelajari apa saja yang menarik minat kita, mulai dari sejarah suatu bangsa yang hidup di masa lalu sampai dengan kemajuan teknologi semasa.

Keduanya berhubungan dengan orang lain. Bahasa memungkinkan kita bergaul dengan orang lain untuk kesenangan kita, atau mempengaruhi mereka untuk mencapai tujuan kita. Melalui bahasa kita dapat mengendalikan lingkungan kita termasuk orang-orang di sekitar kita.

Seterusnya untuk mewujudkan toleransi dalam kehidupan kita. Bahasa memungkinkan kita untuk lebih teratur, saling memahami serta mengenal diri kita, kepercayaan-kepercayaan kita, dan tujuan-tujuan kita.

Keterbatasan jumlah kata yang tersedia untuk mewakili objek. Kata-kata adalah kategori-kategori untuk merujuk pada objek tertentu seperti orang, benda, peristiwa, sifat, perasaan, dan sebagainya. Tidak semua kata tersedia untuk merujuk pada objek.

kata hanya mewakili realiti, tetapi bukan realiti itu dapat berdiri dengan sendiri. Dengan demikian, kata-kata pada dasarnya bersifat abstrak, tidak menggambarkan sesuatu secara nyata. Kata-kata sifat dalam bahasa cenderung bersifat abstrak,misalnya baik-buruk, kaya-miskin, pintar-bodoh, dan sebagainya.

Kata-kata bersifat ambigu, kerana kata-kata menyebabkan persepsi dan interpretasi orang-orang yang berbeda, yang menganut latar belakang sosial budaya yang berbeza pula. Kata berat, yang mempunya makna yang lazimnya beraneka ragam. Misalnya : tubuh orang itu berat ; kepala saya berat : ujian itu berat.

Bahasa terikat konteks budaya. Oleh karena di dunia ini terdapat berbagai kelompok manusia dengan budaya dan subbudaya yang berbeda. Kewujudan dua orang yang berasal dari budaya yang berbeda boleh jadi mengalami kesalahpahaman ketika mereka menggunakan kata yang sama. Misalanya kata awak untuk orang Minang adalah saya atau kita, sedangkan dalam bahasa Melayu (di Palembang dan Malaysia) bererti kamu.

Dalam berbahasa kita sering mencampuradukkan fakta (huraian), penafsiran (dugaan), dan penilaian. Masalah ini berkaitan dengan kekeliruan persepsi. Ketika kita berkomunikasi, kita menterjemahkan gagasan kita ke dalam bentuk lambang (verbal atau nonverbal). Proses ini lazim disebut penyandian (encoding). Bahasa adalah alat penyandian, tetapi alat yang tidak begitu baik (lihat keterbatasan bahasa di atas), untuk itu diperlukan kecermatan dalam berbicara.

Komunikasi nonverbal adalah komunikasi yang menggunakan pesanan-pesanan nonverbal. Istilah nonverbal biasanya digunakan untuk melukiskan semua peristiwa komunikasi di luar kata-kata terucap dan tertulis.

Jalaludin Rakhmat (1994) mengelompokan pesan-pesan nonverbal sebagai berikut, Pesan kinesik. Pesan nonverbal yang menggunakan gerakan tubuh yang bererti, terdiri dari tiga komponen utama : pesan fasial, pesan gestural, dan pesan postural.

Pesan fasial menggunakan air muka untuk menyampaikan makna tertentu. Berbagai penelitian menunjukan bahwa wajah dapat menyampaikan paling sedikit sepuluh kelompok makna : kebahagiaan, rasa terkejut, ketakutan, kemarahan, kesedihan, kemuakan, pengecaman, minat, ketakjuban, dan tekad. Leathers (1976) menyimpulkan penelitian-penelitian tentang wajah sebagai berikut : a. Wajah mengkomunikasikan penilaian dengan senang dan tak senang, yang menunjukan apakah komunikator memandang objek penelitiannya baik atau buruk ; b. Wajah omunikasikan berminat atau tak berminat pada orang lain atau lingkungan ; c. Wajah mengkomunikasikan intensitas keterlibatan dalam situasi-situasi ; d. Wajah mengkomunikasikan tingkat pengendalian individu terhadap pernyataan sendiri ; dan wajah barangkali mengkomunikasikan adanya atau kurang pengertian.

Pesan gestural menunjukan gerakan sebagian anggota badan seperti mata dan tangan untuk mengkomunikasi berbagai makna. Pesan postural berkenaan dengan keseluruhan anggota badan, makna yang dapat disampaikan adalah : a. Immediacy yaitu ungkapan kesukaan dan ketidaksukaan terhadap individu yang lain. Postur yang condong ke arah yang diajak bicara menunjukan kesukaan dan penilaian positif ; b. Power mengungkapkan status yang tinggi pada diri komunikator. Anda dapat membayangkan postur orang yang tinggi hatiu di depan anda, dan postur orang yang merendah ; c. Responsiveness, individu dapat bereaksi secara emosional pada lingkungan secara positif dan negatif. Bila postur tidak berubah, anda mengungkapkan sikap yang tidak responsif.

Pesan proksemik disampaikan melalui pengaturan jarak dan ruang. Umumnya dengan mengatur jarak kita mengungkapkan keakraban kita dengan orang lain.Pesan akrifaktual diungkapkan melalui penampilan tubuh, pakaian, dan kosmetik. Walaupun bentuk tubuh relatif menetap, orang sering berperilaku dalam hubungan dengan orang lain sesuai dengan persepsinya tentang tubuhnya (body image). Erat kaitannya dengan tubuh ialah upaya kita memebentuk citra tubuh dengan pakaian dan kosmetik.

Pesan paralinguistik adalah pesan nonverbal yang berhubungan dengan cara mengucapkan pesan verbal. Satu pesan verbal yang sama dapat menyaipaikan arti yang berbeza bila diucapkan secara berbeza. Pesan ini oleh Deddy Mulyana (2005) disebutnya sebagai parabahasa. kesan sentuhan dan bau-bauan. Alat penerima sentuhan adalah kulit yang mampu menerima dan membedakan emosi yang disampaikan orang melalui sentuhan. Sentuhan dengan emosi tertentu dapat mengkomunikasikan : kasih sayang, takut, marah, bercanda, dan tanpa perhatian.

Fungsi kesan nonverbal.Mark L. Knapp (dalam Jalaludin, 1994), menyebutkan lima fungsi kesan nonverbal yang dihubungkan dengan kesan verbal :Repetisi, yaitu mengulang kembali gagasan yang sudah disajikan kembali secara verbal. Misalnya setelah mengatakan penolakan saya, saya menggelengkan kepala.

Subtitusi, yaitu menggantikan lambang-lambang verbal. Misalnya tanpa sepatah katapun kita berkata, kita menunjukan persetujuan dengan mengangguk-anggukan kepala.Kontradiksi, menolak pesan verbal atau memebri makna yang lain terhadap pesan verbal. Misalnya anda ‘memuji’ prestasi teman dengan mencibirkan bibir, seraya berkata “Hebat, kau memang hebat”.

Komplemen, yaitu melengkapi dan memperkaya makna pesan nonverbal. Misalnya, air muka anda menunjukan tingkat penderitaan yang tidak terungkap dengan kata-kata.Aksentuasi, yaitu menegaskan pesan vebbal atau menggarisbawahinya. Misalnya anda mengungkapkan betapa jengkelnya anda dengan memukul meja.

Sementara itu, Dale G. Leathers (1976) dalam Nonverbal Communication Systems, menyebutkan enam alasan mengapa pesan verbal sangat signifikan. Faktor-faktor nonverbal sangat menentukan makna dalam komunikasi interpersonal.Perasaan dan emosi lebih cermat disampaikan lewat pesan nonverbal ketimbang pesan verbal.

Kesan nonverbal menyampaikan makna dan maksud yang relatif bebas dari penipuan, distorsi, dan kerancuan.Kesan nonverbal mempunyai fungsi metakomunikatif yang sangat diperlukan untuk mencapai komunikasi yang berkualiti tinggi.Kesan nonverbal merupakan cara komunikasi yang lebih efisien dibandingkan dengan kesan verbal.

Pesan nonverbal merupakan sarana sugesti yang paling tepat.Prinsip-prinsip komunikasi seperti halnya fungsi dan definisi komunikasi mempunyai uraian yang beragam sesuai dengan konsep yang dikembangkan oleh masing-masing pakar. Istilah prinsip oleh William B. Gudykunst disebut asumsi-asumsi komunikasi. Larry A.Samovar dan Richard E.Porter menyebutnya karakteristik komunikasi. Deddy Mulyana, Ph.D membuat istilah baru yaitu prinsip-prinsip komunikasi. Terdapat 12 prinsip komunikasi yang dikatakan sebagai penjabaran lebih jauh dari definisi dan hakikat komunikasi yaitu :

Prinsip 1 : Komunikasi adalah suatu proses simbolik.Komunikasi adalah sesuatu yang bersifat dinamis, sirkular dan tidak berakhir pada suatu titik, tetapi terus berkelanjutan.
Prinsip 2 : Setiap perilaku mempunyai potensi komunikasi. Setiap orang tidak bebas nilai, pada saat orang tersebut tidak bermaksud mengkomunikasikan sesuatu, tetapi dimaknai oleh orang lain maka orang tersebut sudah terlibat dalam proses berkomunikasi. Gerak tubuh, ekspresi wajah (komunikasi non verbal) seseorang dapat dimaknai oleh orang lain menjadi suatu stimulus.

Prinsip 3 : Komunikasi punya dimensi isi dan hubungan. Setiap pesan komunikasi mempunyai dimensi isi dimana dari dimensi isi tersebut kita bisa memprediksi dimensi hubungan yang ada diantara pihak-pihak yang melakukan proses komunikasi. Percakapan diantara dua orang sahabat dan antara dosen dan mahasiswa di kelas berbeda memiliki dimesi isi yang berbeda.

Prinsip 4 : Komunikasi itu berlangsung dalam berbagai tingkat kesengajaan Setiap tindakan komunikasi yang dilakukan oleh seseorang bisa terjadi mulai dari tingkat kesengajaan yang rendah artinya tindakan komunikasi yang tidak direncanakan (apa saja yang akan dikatakan atau apa saja yang akan dilakukan secara rinci dan detail), sampai pada tindakan komunikasi yang betul-betul disengaja (pihak komunikan mengharapkan respon dan berharap tujuannya tercapai)

Prinsip 5 : Komunikasi terjadi dalam konteks ruang dan waktuPesan komunikasi yang dikirimkan oleh pihak komunikan baik secara verbal maupun non-verbal disesuaikan dengan tempat, dimana proses komunikasi itu berlangsung, kepada siapa pesan itu dikirimkan dan kapan komunikasi itu berlangsung.

Prinsip 6 : Komunikasi melibatkan prediksi peserta komunikasiTidak dapat dibayangkan jika orang melakukan tindakan komunikasi di luar norma yang berlaku di masyarakat. Jika kita tersenyum maka kita dapat memprediksi bahwa pihak penerima akan membalas dengan senyuman, jika kita menyapa seseorang maka orang tersebut akan membalas sapaan kita. Prediksi seperti itu akan membuat seseorang menjadi tenang dalam melakukan proses komunikasi.

Prinsip 7 : Komunikasi itu bersifat sistemik.Dalam diri setiap orang mengandung sisi internal yang dipengaruhi oleh latar belakang budaya, nilai, adat, pengalaman dan pendidikan. Bagaimana seseorang berkomunikasi dipengaruhi oleh beberapa hal internal tersebut. Sisi internal seperti lingkungan keluarga dan lingkungan dimana dia bersosialisasi mempengaruhi bagaimana dia melakukan tindakan komunikasi.

Prinsip 8 : Semakin mirip latar belakang sosial budaya semakin efektiflahkomunikasi. Jika dua orang melakukan komunikasi berasal dari suku yang sama, pendidikan yang sama, maka ada kecenderungan dua pihak tersebut mempunyai bahan yang sama untuk saling dikomunikasikan. Kedua pihak mempunyai makna yang sama terhadap simbol-simbol yang saling dipertukarkan.

Prinsip 9 : Komunikasi bersifat nonsekuensial. Proses komunikasi bersifat sirkular dalam arti tidak berlangsung satu arah. Melibatkan respon atau tanggapan sebagai bukti bahwa pesan yang dikirimkan itu diterima dan dimengerti.

Prinsip 10 : Komunikasi bersifat prosesual, dinamis dan transaksional. Konsekuensi dari prinsip bahwa komunikasi adalah sebuah proses adalah komunikasi itu dinamis dan transaksional. Ada proses saling memberi dan menerima informasi diantara pihak-pihak yang melakukan komunikasi.

Prinsip 11 : komunikasi bersifat irreversible. Setiap orang yang melakukan proses komunikasi tidak dapat mengontrol sedemikian rupa terhadap efek yang ditimbulkan oleh pesan yang dikirimkan. Komunikasi tidak dapat ditarik kembali, jika seseorang sudah berkata menyakiti orang lain, maka efek sakit hati tidak akan hilang begitu saja pada diri orang lain tersebut.

Prinsip 12 : Komunikasi bukan panasea untuk menyelesaikan berbagai masalah. Dalam arti bahwa komunikasi bukan satu-satunya ubat mujarab yang dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah.

Rujukan

http://meiliemma.wordpress.com/2006/10/17/prinsip-prinsip-komunikasi/

http://komuikasi.wordpress.com/2010/01/26/definisi-ilmu-komunikasi/

http://felixsharieff.wordpress.com/2009/12/15/komunikasi-verbal-dan-non-verbal/


Tidak ada komentar: